Selasa, 25 Februari 2025

IMAN NURUL FITRAH SEBAGAI POTENSI IMAN PADA MANUSIA

IMAN NURUL FITRAH SEBAGAI POTENSI IMAN PADA MANUSIA

Pengantar

Setiap manusia dilahirkan dengan potensi keimanan yang disebut Iman Nurul Fitrah. Fitrah ini merupakan kecenderungan alami manusia terhadap agama yang lurus, yaitu agama Tauhid. Islam sebagai agama fitrah merupakan jalan kebenaran yang ditentukan oleh Allah. Namun, tidak setiap manusia secara otomatis bertemu dengan Islam, karena ada yang lahir dari keluarga Muslim, ada yang menemukan Islam melalui pencarian kebenaran, dan ada pula yang tidak pernah bertemu dengan Islam sepanjang hidupnya

Allah telah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Hidayah merupakan pertemuan antara Nurul Fitrah (cahaya iman dalam diri manusia) dengan Nurul Quran (cahaya petunjuk Ilahi). Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

"Allah (Pemberi) cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang di dalamnya ada pelita besar... Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki..." (QS. An-Nur: 35)

Dengan demikian, keimanan seseorang tidak hanya bergantung pada potensi dasar yang telah Allah berikan dalam dirinya, tetapi juga pada usaha dan takdir Allah dalam mempertemukan manusia dengan cahaya Islam yang sempurna.

Iman Nurul Fitrah: Potensi Keimanan dalam Diri Manusia

Allah menciptakan manusia dengan potensi keimanan sejak lahir. Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan:

"Setiap anak yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Muslim)

Fitrah di sini adalah potensi dasar manusia untuk mengenal dan menerima kebenaran. Manusia secara alami cenderung kepada Allah dan agama Tauhid, namun lingkungan dan pendidikan dapat mengubah arah kecenderungan ini.

Hubungan Fitrah Manusia dengan Agama Tauhid

Fitrah manusia selalu cenderung pada agama yang benar, yaitu Islam. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah." (QS. Ar-Rum: 30)

Namun, meskipun manusia diciptakan dengan fitrah untuk mengenal Allah, tidak semua manusia dapat menjaga fitrah tersebut. Sebagian dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, atau hawa nafsu yang menjauhkannya dari agama fitrah.

Mengapa Tidak Semua Manusia Bertemu dengan Islam?

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang bisa atau tidak bertemu dengan Islam:

1. Dilahirkan dalam Keluarga Muslim

Sebagian orang mendapatkan Islam sebagai warisan keluarga. Namun, tidak semua Muslim yang lahir dari keluarga Islam otomatis menjalani Islam dengan baik. Ada yang tetap istiqamah, ada pula yang menjauh dari ajaran Islam.

2. Menemukan Islam Melalui Pencarian Kebenaran

Ada individu yang tidak lahir dalam keluarga Muslim, tetapi dengan pencarian kebenaran mereka akhirnya menemukan Islam. Mereka adalah orang-orang yang diberikan hidayah setelah perjuangan dan pencarian yang panjang.

3. Tidak Pernah Bertemu dengan Islam

Ada pula manusia yang sejak lahir hingga wafat tidak pernah mengenal Islam karena hidup dalam lingkungan yang jauh dari cahaya kebenaran. Mereka berada dalam keterbatasan informasi dan kesempatan untuk mengenal Islam.

Hidayah: Pertemuan Cahaya Iman dan Cahaya Al-Qur'an

Hidayah adalah pertemuan antara Iman Nurul Fitrah dan Nurul Quran. Al-Qur'an menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah cahaya bagi manusia:

"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dari urusan Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya, yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami..." (QS. Asy-Syura: 52)

Dalam proses hidayah, Allah memberikan cahaya bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana firman Allah:

"Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki..." (QS. An-Nur: 35)

Orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang fitrahnya bersih, memiliki niat yang tulus, dan berusaha mencari kebenaran. Sebaliknya, mereka yang berpaling dari fitrah cenderung hidup dalam kegelapan.

Kesimpulan

1. Iman Nurul Fitrah adalah potensi keimanan yang dimiliki setiap manusia sejak lahir, sebagai kecenderungan alami kepada Tauhid.

2. Islam adalah agama fitrah yang selaras dengan jiwa manusia. Namun, tidak semua manusia bertemu dengan Islam karena faktor lingkungan, pencarian, atau ketentuan Allah.

3. Hidayah adalah proses pertemuan antara Nurul Fitrah (cahaya iman dalam diri manusia) dan Nurul Quran (cahaya petunjuk Ilahi).

4. Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, namun manusia juga harus berusaha untuk mencari dan menerima kebenaran.

Saran

1. Bagi yang telah lahir dalam Islam, hendaknya bersyukur dan berusaha memahami serta mengamalkan Islam dengan baik

2. Bagi yang masih mencari kebenaran, hendaknya terus mendekatkan diri kepada Allah dan memohon petunjuk-Nya.

3. Pentingnya dakwah dan penyebaran Islam agar lebih banyak manusia yang bertemu dengan cahaya hidayah.


Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberi hidayah dan dapat mempertahankan cahaya iman hingga akhir hayat. Aamiin.


Allahu a'lam bishawab

Abu Roja




Sabtu, 28 Desember 2024

Pandangan Islam menyambut Tahun Baru

Pandangan Islam menyambut Tahun Baru

Pengantar

Waktu adalah salah satu anugerah terbesar dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Dalam Al-Qur'an, Allah sering mengingatkan pentingnya waktu, seperti dalam Surah Al-'Asr yang menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Pergantian tahun adalah momen refleksi yang penting untuk mencapai pencapaian, mengidentifikasi kekurangan, dan merencanakan langkah ke depan sesuai ajaran Islam. Bagaimana Islam mengajarkan pemanfaatan waktu yang bijak dan memberikan peringatan agar tidak menyerupai tradisi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Pandangan Islam menyambut Tahun Baru

Tahun 2025 akan segera tiba. Momen ini biasanya disambut dengan berbagai acara meriah di berbagai negara, melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang. Namun, sebagai umat Islam, penting bagi kita untuk merayakannya dengan bijak dan tetap sesuai dengan ajaran agama. Tradisi seperti meniup terompet yang dianggap bagian dari tradisi Yahudi, membunyikan lonceng yang merupakan tradisi Nasrani, atau menyalakan kembang api yang berhubungan dengan tradisi Majusi (penyembah api) perlu dihindari.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta." Lalu ada yang bertanya kepada Rasulullah SAW, 'Apakah mereka mengikuti seperti Persia dan Romawi?' Beliau menjawab, 'Selain mereka, lalu siapa lagi?'” (HR. Bukhari No. 7319) Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud No. 4031, disahihkan oleh Al-Albani)

Oleh karena itu, mari kita menyambut tahun baru dengan cara yang benar dan sesuai ajaran Islam. Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perhitungan waktu

Al-Qur'an membahas perhitungan waktu, termasuk tahun, dalam beberapa ayat. Salah satu contohnya adalah Surah Al-Kahfi ayat 25 yang menjelaskan lamanya Ashabul Kahfi tinggal di dalam gua:  "Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)."  

Ayat ini menunjukkan bahwa 300 tahun dalam kalender Masehi setara dengan 309 tahun dalam kalender Hijriyah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan antara sistem perhitungan kalender matahari (Masehi) dan bulan (Hijriyah).

Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa Allah menciptakan matahari dan bulan untuk membantu manusia menghitung waktu. Seperti yang disebutkan dalam Surat Yunus ayat 5: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu." Begitu pula dalam Surat Al-Isra ayat 12: "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami). Kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu."

Ayat-ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya waktu sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan berbuat kebajikan.

Ada sebuah nasihat hikmah yang berbunyi: “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik dari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sekarang sama dengan kemarin, maka dia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa yang harinya sekarang lebih buruk dari kemarin, maka dia adalah orang yang celaka."

Meskipun nasihat ini bukan berasal dari hadits-hadits yang shahih, maknanya sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong kita untuk terus memperbaiki diri. Sebagai penguatnya, terdapat hadits shahih yang menekankan pentingnya amal dan istiqamah, seperti:“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad No. 8962, disahihkan oleh Al-Albani). “Setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari No. 1, Muslim No. 1907)

Semangat dari nasihat ini dapat menjadi motivasi bagi kita untuk terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Dengan datangnya pergantian tahun, semoga kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Kesimpulan:

Waktu adalah karunia dari Allah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Al-Qur'an mengingatkan kita tentang pentingnya perhitungan waktu melalui penciptaan matahari dan bulan. Ini menunjukkan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk beribadah, memperbaiki diri, dan melaksanakan kebajikan.

Meskipun nasehat seperti “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik dari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung” bukan berasal dari hadits shahih, semangatnya sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik.

Mari jadikan pergantian tahun sebagai momentum untuk refleksi diri, meningkatkan amal, memperbaiki niat, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Allahu a'lam bishawab
Abu Roja

Sabtu, 21 Desember 2024

Mengenal Umar bin Abdul Aziz

Mengenal Umar bin Abdul Aziz

Pengantar

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab melakukan inspeksi malam hari untuk melihat langsung kondisi umatnya. Di sebuah rumah, ia mendengar percakapan antara seorang ibu dengan putrinya. Sang ibu menyuruh putrinya mencampur susu dengan air agar mendapat keuntungan lebih, tetapi putrinya menolak dengan berkata, "Bagaimana mungkin kita melakukan hal ini, padahal Amirul Mukminin melarang mencampur susu dengan air?" Sang ibu beralasan, “Amirul Mukminin tidak melihat kita.” Namun, dengan tegas, putrinya menjawab, “Jika Amirul Mukminin tidak melihat, maka Allah tetap melihat kita.”

Ketegasan dan ketaqwaan jawaban gadis itu sangat mengesankan Khalifah Umar bin Khattab. Esok harinya, Umar mencari tahu tentang gadis tersebut dan akhirnya menikahkannya dengan putranya, Ashim bin Umar bin Khattab. Dari keturunan mereka, lahirlah Umar bin Abdul Aziz.

 

Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 682 M (63 H) di Madinah. Ia adalah cicit dari Umar bin Khattab melalui garis ibunya, Laila binti Ashim. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, adalah seorang tokoh penting dalam Dinasti Umayyah, Umar bin abdul Aziz menikah dengan Fatimah binti Abdul Malik, putri Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 717 M setelah sepupunya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, wafat. Meskipun berasal dari keluarga Dinasti Umayyah yang berbasis monarki (turun temurun), Umar berusaha mengembalikan prinsip-prinsip syuro (musyawarah) seperti yang diterapkan oleh Khulafaur Rasyidin. Sebagai khalifah, ia memerintah selama kurang lebih 2 tahun 5 bulan hingga wafat pada tahun 720.

Reformasi sistem pemerintahan Monarki Menjadi Sistem Syuro

Umar bin Abdul Aziz bertekad untuk mengembalikan sistem pemerintahan Islam dari monarki turun-temurun yang diterapkan oleh Bani Umayyah, menjadi sistem syuro yang lebih adil seperti pada masa Khulafaur Rasyidin. Salah satu langkah awalnya adalah mengurangi hak istimewa keluarga Bani Umayyah, dan mengembalikan harta yang sebelumnya diambil secara tidak adil ke Baitul Mal (kas negara). Ia juga menghapus pajak-pajak yang memberatkan rakyat dan memfokuskan kebijakan pada kesejahteraan umat.

Reformasi Umar bin Abdul Aziz ini sangat berdampak pada banyak pihak, terutama mereka yang merasa diuntungkan oleh sistem monarki. Oleh karena itu, banyak yang tidak senang dengan kebijakan Umar dan berusaha menjatuhkannya. Pada tahun 720 M, Umar diracun oleh seorang pelayan yang disuap oleh lawan-lawan politiknya. Setelah sakit beberapa hari, Umar bin Abdul Aziz wafat pada usia 39 tahun.

 

Pernyataan Umar bin Abdul Azis menjelang Wafatnya

Sebelum wafat, Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku ingin menyerahkan kekuasaan kepada musyawarah umat (Syuro), sebagaimana yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin, agar umat ini kembali kepada keadilan sejati.”

Meskipun ada perdebatan tentang keterlibatan istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, dalam peracunan tersebut, sebagian besar perdebatan berpendapat bahwa Umar bin Abdul Aziz wafat akibat diracun oleh lawan-lawan politiknya yang merasa terancam dengan revolusi pemerintahan yang ia lakukan. Sebagai seorang pemimpin yang adil, Umar tidak ingin membalas dendam.

Ia berkata, "Aku tahu apa yang membuat sakit hati, dan aku tahu siapa yang melakukannya. Tapi aku tidak ingin membalas dendam. Biarkan urusanku dengan Allah.",

Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai salah satu khalifah terbaik dalam sejarah Islam, sering disebut sebagai "Khalifah Rasyidah Kelima" karena keadilannya, kemuliaan akhlaknya, dan upayanya untuk mengembalikan sistem pemerintahan Islam yang lebih adil.

 Kesimpulan

Ketegasan dan ketakwaan seorang gadis penjual susu menjadi alasan Khalifah Umar bin Khattab menikahkannya dengan putranya. Meskipun sifat-sifat tersebut tidak diwariskan secara genetik, kebiasaan baik gadis itu berpotensi menular kepada anak-anaknya, terutama ketika ia berperan sebagai ibu yang mendidik generasi selanjutnya. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang anak perempuan bernama Laila binti Ashim, yang kelak menjadi ibu dari Umar bin Abdul Aziz.

Sebagai “Ummu Madrasatul Ula” (ibu sebagai madrasah pertama), peran ibu sangat penting dalam membentuk karakter anak-anaknya. Umar bin Abdul Aziz mewarisi ketegasan dari neneknya dan semangat zuhud dari kakek buyutnya, Umar bin Khattab. Kombinasi karakter ini menjadikannya seorang pemimpin yang adil, tegas, dan bijaksana.

Ketegasan dan ketakwaan Umar bin Abdul Aziz terlihat dalam menjalankan pemerintahan yang adil, tanpa memandang bulu, bahkan terhadap keluarganya sendiri dari Bani Umayyah. Ia bercita-cita mengubah sistem pemerintahan monarki menjadi sistem syura (musyawarah), sebuah cita-cita yang terinspirasi dari Khulafaur Rasyidin. Namun, langkah-langkahnya ini membuat banyak pihak, terutama dari kalangan Bani Umayyah, merasa tidak senang.

Walaupun masa kepemimpinannya singkat, Umar bin Abdul Aziz menunjukkan keteguhan imannya. Ia bahkan menghadapi risiko besar, termasuk diracuni oleh orang-orang yang tidak menyukai reformasinya. Umar menyadari siapa yang meracuninya, namun ia menerima hal itu sebagai konsekuensi dari perjuangannya menegakkan keadilan. Baginya, mengembalikan pemerintahan kepada prinsip syura adalah bentuk keyakinan yang tidak dapat ditawar, karena ia berusaha meneladani Khulafaur Rasyidin.

Ada prinsip-prinsip  yang mendasar yang ingin diubah Umar bin Abdul Aziz  dari Monarki menjadi sistem syuro adalah adanya penyimpangan Aqidah tauhid menjadi syirik, syiriknya bukan menyembah berhala tapi menjadikan kekuasaan menjadi tujuan utama, lebih memprioritaskan keluarga Bany Umayyah, penyimpangan aspek Syari’ah adalah lembaga Baitul Mal menjadi milik Raja, Penyimpangan aspek Qiyadah yaitu berubahnya istitusi Khilafah menjadi kerajaan.

Banyak ulama yang meyakini bahwa perjuangan Umar bin Abdul Aziz telah dinubuwahkan oleh Rasulullah , karena ia memenuhi ciri-ciri seorang pemimpin yang adil dan berupaya memperbaiki kondisi umat.

“Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”
Hudzaifah bertanya lagi, “Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan lagi?”
Beliau menjawab, "Ya, tetapi ada kekurangannya."
Hudzaifah bertanya, “Apa kekurangannya?”
Beliau menjawab, "Akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunahku. Di antara mereka ada orang-orang yang hatinya seperti hati setan dalam tubuh manusia."
(HR. Bukhari, no. 3606; Muslim, no. 1847)

 

Bottom of Form

Wallahu a’lam bishawab.

Abu Roja

Jumat, 20 Desember 2024

Kebersihan dan Kesucian yang integral

Kebersihan dan Kesucian yang integral

Pengantar

Dongeng Kabayan jadi imam,  sholat Maghri, baru sampai rakaat kedua, kabayan  kentut. Meski solatnya otomatis batal, Kabayan tidak mundur dari posisi imam dan tetap melanjutkan rakaat terakhir. Setelah selesai salam, para makmum bertanya, "Kenapa Kabayan tidak mundur? Bukankah solatmu batal karena kentut?" Dengan santai, Kabayan menjawab, "Saya mah nggak batal. Saya kan nggak punya wudhu, yang batal itu kalau punya wudhu." Ilustrasi cerita Kabayan ini, meskipun humoris, mengandung pesan penting: sholat tidak sah tanpa wudhu. Wudhu, meski pada dasarnya sunnah, menjadi wajib ketika melaksanakan sholat. serupa kaidah fikih menyatakan:

“Ma la yatimul wajib illa bihi fahuwa wajib” (Sesuatu yang tidak sempurna kewajiban tanpanya, maka ia menjadi wajib).

 Dalam berbagai kitab-kitab tentang keilmuan islam, memiliki esensi yang sama terkait kebersihan dan kesucian. Dalam ajaran Islam bersih, suci menjadi syarat dan masyrut bisa ditemukan awal pembahasan  kitab kitab Islam seperti : kitab Aqidah, Kitab Fiqh, kitab Akhlaq, kitab Sejarah. Didalam kitab tersebut ada makna yang sama yaitu kebersihan dan kesucian.

Kitab Aqidah dimulai dengan Bab Tauhid.

Bertauhid bersih (suci) dari syirik :
Tauhid  adalah pokok daripada ajaran islam, Secara Bahasa : Satu - Menyatukan – kesatuan, Istilah : Mengesakan Allah dengan asma, sifat dan af’aliyah serta seluruh eksistensinya. Tauhidullah adalah mengesakan Allah, yakni menjadikan Allah sebagai sumber, pusat, dan tujuan dari pengabdian diri “laailaahillallah”. Artinya bagaimana hidup dan kehidupan bertahuid menjadi cita-cita yang mengarahkan visi dan misi hanya semata-mata untuk Allah dan bersih dari kesyirikan, yaitu sesuatu selain Allah.

Kitab Fikih dimulai dengan Bab Thaharah (bersuci).

Thaharah kebersihan  dan kesucian fisik
Bersuci adalah syarat mendasar untuk sahnya ibadah seseorang, baik itu bersuci diri, pakaian, maupun tempat. Nabi SAW bersabda:

 

 “At-thuhuru syathru al-iman” (Bersuci adalah bagian dari iman). (HR. Muslim.

 

Oleh karena itu, thaharah dianggap sebagai fondasi penting dalam menjaga keimanan. Sebagai seorang muslim, menjaga kebersihan dan kesucian diri, keluarga, dan lingkungan merupakan bagian dari upaya menyempurnakan iman.

Kitab Akhlaq dimulai dengan Bab Adab kepada Allah.


Taslim bersih dari kufur
Salah satu adab atau akhlak kepada Allah adalah Taslim. Sikap Taslim mampu membersihkan diri dari sikap kufur terhadap keberadaan Allah. Lawan dari Taslim adalah Kufur. Secara bahasa, Taslim bermakna menerima, menyerah, tunduk, dan patuh kepada-Nya. Secara istilah, Taslim adalah sikap yang muncul dari kesadaran mendalam tentang status diri manusia yang lemah (dha'if), bergantung sepenuhnya kepada Allah, tidak memiliki kekuatan atau kemampuan, tidak mampu hidup mandiri, serta fakir di hadapan Allah Yang Maha Alim, Maha Kuasa, dan Maha Besar. Oleh karena itu, seluruh keberadaan manusia sangat bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan.Qs.6:1-72

Kitab Sirah dimulai dengan Nasab Nabi SAW

Terjaganya kebersihan dan kesucian Nasab Nabi SAW
Dalam sirah sering diawali dari kedudukan Nasab Nabi di kehidupan bangsa Arab. Berbicara tentang Nasab adalah bahwa Rasulullah SAW dilahirkan dari Nasab atau keturunan yang terbaik sebagaimana Nabi SAW bersabda 

 “Aku lahir dari pernikahan, bukan percabulan, sejak Adam hingga ayah-ibu melahirkan diriku, sama sekali tak pernah aku disentuh dari percabulan jahiliyah”. “Malaikat Jibril berkata: Aku telah membolak-balikkan bagian timur dan barat bumi ini, tetapi tidak aku temukan seorangpun yang lebih afdol dari Muhammad Saw, telah pula kubolak-balikkan timur dan barat bumi ini, tetapi tidak kutemukan keluarga yang lebih afdol dari keluarga Bani hasyim” (Hr. Baihaqi).

 

Akan mencerderai status Kenabian jika keturunanan  Muhammad bin Abullah  tidak terjaga

Kesimpulan                                                                                                            

Pentingnya kebersihan dan kesucian dalam berbagai aspek keislaman, baik secara fisik, spiritual, maupun nasab. Ilustrasi cerita Kabayan yang humoris mengajarkan bahwa sholat tidak sah tanpa wudhu, menegaskan bahwa kebersihan dan kesucian adalah syarat utama sahnya ibadah. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih: “Ma la yatimul wajib illa bihi fahuwa wajib” (Sesuatu yang tidak sempurna kewajiban tanpanya, maka ia menjadi wajib). Prinsip kebersihan dan kesucian ini tercermin dalam berbagai kitab keilmuan Islam. Kitab Aqidah : Dimulai dengan bab Tauhid, tekanan kebersihan dari syirik sebagai inti keimanan. Kitab Fikih : Dimulai dengan bab Thaharah (bersuci), pentingnya kebersihan fisik untuk sahnya ibadah. Kitab Akhlaq : Dimulai dengan adab kepada Allah, tekanan sikap Taslim sebagai kebersihan hati dari kufur. Kitab Sirah : Menekankan kesucian nasab Nabi Muhammad SAW sebagai bukti keistimewaan beliau sebagai Rasulullah.

 Dengan demikian, kebersihan dan kesucian, baik secara fisik, spiritual, maupun nasab, menjadi fondasi utama dalam menjaga keimanan dan melaksanakan ibadah dengan sempurna. Prinsip ini mencerminkan ajaran Islam yang menyeluruh, mulai dari penyucian hati, tubuh, hingga pengakuan terhadap ketauhidan Allah.

 

Allahu a’lam bishawab
Abu Roja

Kamis, 19 Desember 2024

Perlindungan dan Pemerilaharaan Allah SWT

Perlindungan dan Pemerilaharaan Allah SWT

Pengantar

Kehidupan kita sering kali dihadapkan pada berbagai persoalan hidup. Namun, tidak ada persoalan yang lebih besar dari visi dan misi hidup yang melekat pada tujuan penciptaan kita yaitu ibadah Qs. 5:56. Bagaimana kita menjaga agar hidup dan kehidupan kita tetap berada pada jalur yang telah digariskan oleh Allah, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Bagaimana kita memastikan bahwa jiwa kita selalu lapang untuk menerima dan menjalankan perintah Allah SWT Qs. 39:22 , tanpa merasa berat hati dalam menjalankannya Qs. 57:16 . Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu mengorbankan jiwa dan raga untuk mencapai cita-cita yang sesuai dengan visi misi hidup kita, yakni mentauhidkan Allah dengan seutuhnya. Karena, dengan memurnikan ketauhidan, Allah menjamin hidup, kehidupan dan keselamatan kita adalah bentuk perlindungan dan pemeliahara Allah Qs. 9:40, 21:69, 18:18, sebagaimana yang telah diceritakan dalam Al-Qur'an.

Terselamatkannya Rasulullah saw. dan Abu Bakar di Gua Tsur

Kisah di Gua Tsur terjadi ketika Rasulullah SAW dan sahabatnya, Abu Bakar As-Siddiq, bersembunyi di dalam gua untuk menghindari pengejaran kaum musyrikin Mekkah yang ingin menangkap, memenjarakan, dan membunuh mereka (QS. 8:30). Kejadian ini terjadi setelah perintah hijrah ke Madinah. Kaum musyrikin yang marah karena semakin banyaknya orang yang mengikuti Islam, menawarkan hadiah bagi yang bisa menangkap Rasulullah SAW. Rasulullah dan Abu Bakar pun meninggalkan Mekkah secara diam-diam dan bersembunyi di Gua Tsur. Allah SWT melindungi mereka dengan cara luar biasa. Di mulut gua, Allah menyuruh laba-laba untuk membuat sarang dan burung merpati bertelur di sana. Ketika pengejaran kaum musyrikin sampai di gua, mereka melihat sarang laba-laba yang utuh dan mengira tidak mungkin ada orang di dalamnya, lalu mereka pergi tanpa memeriksa lebih lanjut (referensi dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurtubi).

Kisah ini menunjukkan betapa besar perlindungan Allah terhadap hamba-Nya yang beriman, serta pentingnya tawakkal dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian.


"Jika kamu tidak menolongnya (Rasulullah), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia salah seorang dari dua orang yang berada di dalam gua, ketika dia berkata kepada temannya, 'Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada mereka dan menguatkan mereka dengan pasukan yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menurunkan azab kepada orang-orang kafir." Qs. 9:40

Dari Aisyah RA, ia berkata:
"Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar berada di dalam gua, Abu Bakar berkata, 'Ya Rasulullah, jika mereka melihat ke bawah kaki mereka, pasti mereka akan melihat kita.' Rasulullah SAW menjawab, 'Apa pendapatmu tentang dua orang yang ketiga di antaranya adalah Allah?' (HR. Bukhari dan Muslim)"

Terselamatkannya Nabi Ibrahim dari Pembakaran oleh Raja Namrud

Kisah Nabi Ibrahim a.s. dibakar oleh Raja Namrud tetapi tidak terbakar dengan izin Allah disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an, terutama Qs. 21: 68-70, 37: 97-98.

Nabi Ibrahim a.s. hidup di tengah-tengah masyarakat yang menyembah berhala. Beliau mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah Allah, tetapi mereka menolak. Untuk menunjukkan kesalahan mereka, Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala mereka, kecuali yang terbesar. Ketika ditanya siapa yang melakukannya, Nabi Ibrahim mengatakan, “Tanyakanlah kepada berhala besar itu.” (QS. 21: 63). Kaum tersebut marah karena merasa dihina dan memutuskan untuk membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup sebagai hukuman. Mereka menyiapkan api yang sangat besar dan melemparkan Nabi Ibrahim ke dalamnya. Namun, Allah memerintahkan api tersebut untuk menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim, sebagaimana firman-Nya:

"Kami berfirman: 'Hai api, jadilah dingin, dan keselamatan bagi Ibrahim!'" Qs. 21: 69

Kisah ini mengajarkan keimanan yang kuat dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.

 

Terselamatkannya Pemuda Al-Kahfi dari Kekuasaan Raja yang Zalim

 

Kisah pemuda Ashabul Kahfi terdapat dalam Qs. 18: 9-26. Para pemuda Ashabul Kahfi hidup di tengah masyarakat yang menyembah selain Allah. Mereka adalah pemuda beriman yang menolak ikut dalam kekufuran tersebut. Ketika raja yang zalim memaksa mereka untuk meninggalkan agama mereka, mereka memutuskan untuk melarikan diri dan berlindung di sebuah gua.


"Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka mengulurkan kedua lengannya di muka pintu gua..." Qs. 18: 18.

Di dalam gua, Allah menidurkan mereka selama 300 tahun ditambah 9 tahun. Allah memutar tubuh mereka ke kanan dan kiri agar tubuh mereka tidak rusak, dan anjing mereka tetap berjaga di pintu gua. Hidup, kehidupan, dan keselamatan adalah bentuk penjagaan serta pemeliharaan dari Allah

Kesimpulan

Orang yang beriman dan memurnikan ketaatannya kepada Allah, mendapat jaminan hidup, kehidupan dan keselamatan sebagai bentuk perlindungan dan pemeliharaan dari-Nya. Allah SWT memberikan perlindungan kepada hamba-Nya yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran-Nya, baik melalui Al-Qur'an maupun Sunnah Rasulullah SAW. Pemurnian ketaatan ini bukan hanya mencakup ibadah lahiriah, tetapi juga keikhlasan hati dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan memurnikan ketaatan, Allah memberikan jaminan hidup yang penuh berkah, kedamaian dalam hati, dan keselamatan dunia akhirat. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "Barang siapa yang beriman dan beramal shalih, maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik kepadanya" (QS. An-Nahl: 97).

 

Allahu a’lam bishawab
Abu Roja

Jumat, 13 Desember 2024

kabar atau khobar

Setiap hari, kita membaca berita. Dengan berkembangnya teknologi informasi, berita kini lebih mudah diakses melalui internet. Kita bisa mendapatkannya dari media online, grup WhatsApp, dan berbagai sumber lain. Internet, sebagai "jendela dunia," memungkinkan kita memperoleh informasi dengan cepat. Berita-berita tersebut menggambarkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita maupun di dunia, yang kemudian menjadi bagian dari sejarah.

Pengertian Kabar atau Khobar

Istilah kabar atau khobar istilah Sejarah dalam Al-Quran,  sudah sering kita pahami sebagai berita, informasi, atau pesan. Dalam konteks Al-Qur'an, khobar memiliki makna yang lebih mendalam, yang sering disebut sebagai khubron. Kata ini berasal dari akar kata yang sama, yaitu kha-ba-ra, yang bermakna pengetahuan, pengalaman, atau informasi yang mendalam. Contohnya terdapat dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir (QS. Al-Kahfi: 69) serta kisah Zulkarnain (QS. Al-Kahfi: 91). Khobar adalah fenomena peristiwa yang terjadi  mengandung makna yang mendalam dari pengalaman, pengetahuan atau informasi, yang tidak hanya terlihat secara kasat mata saja, tetapi ada maksud dan tujuan dari fenomena peristiwa berupa hikmah dan pelajaran.

Dalam sejarah, khobar tidak hanya sekadar informasi biasa. Ia mencakup pesan mendalam yang dapat memberikan pelajaran berharga. Misalnya, perjalanan Nabi Musa bersama Nabi Khidir dan kisah Zulkarnain bukan hanya cerita tentang fenomena peristiwa, tetapi mengandung hikmah yang harus dipahami secara mendalam.

Hikmah dari Peristiwa Nabi Musa dan Nabi Khidir

Memaknai fenomena suatu peristiwa tidak selalu tampak dari apa yang terlihat secara lahiriah. Dalam kisah Nabi Khidir, membocorkan perahu tampak sebagai tindakan yang merugikan pemiliknya. Namun, ternyata tujuannya untuk melindungi perahu tersebut dari raja zalim yang akan merampasnya.Membunuh seorang anak yang dilakukan oleh Nabi khidir adalah perbuatan dosa besar. Namun, anak tersebut, jika dibiarkan hidup, akan menjadi sumber penyebab bisa menggeser keimanan ke pada kemusrikan bagi kedua orang tuanya. Membangun tembok yang hampir roboh dilakukan tanpa bayaran. Namun, tindakan ini menyelamatkan harta anak yatim, yang akan berguna di masa depan.

Nabi Khidir menjelaskan kepada Nabi Musa bahwa semua tindakannya dilakukan atas petunjuk Allah. Ini menunjukkan bahwa fenomena suatu peristiwa, yang mungkin tampak buruk di mata manusia, sebenarnya menyimpan kebaikan dan hikmah di baliknya.

Pelajaran dari Khobar atau Khubron

Dari makna khobar atau khubron, kita belajar bahwa fenomena peristiwa yang tampak buruk secara lahiriah bisa saja membawa kebaikan. Sebagai contoh, Rasulullah saw lahir dalam keadaan yatim. Kondisi ini membuat beliau tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan tidak mudah berkeluh kesah. Keyatiman Rasulullah adalah bagian dari pendidikan Allah untuk mempersiapkan beliau sebagai Nabi dan Rasul

Dalam islam, sejarah adalah rangkaian peristiwa yang terjadi berdasarkan sunnatullah (hukum Allah). Oleh karena itu kita harus memaknai perjalanan hidup dengan sabar dan optimis. Setiap musibah atau ujian adalah bagian dari sejarah hidup yang mengandung pelajaran dan hikmah, baik peristiwa kecil atau besar. Hal ini tidak boleh menggeser orientasi visi dan misi hidup kita untuk tetap berada di jalan Allah.


Kisah Nabi Zulkarnain, Yajuj, dan Majuj

Kisah Nabi Zulkarnain menghadapi Yajuj dan Majuj sebagai sebuah fenomena peristiwa penting dalam sejarah Islam sebagai khobar ada makna yang mendalam pesan yang ingin disampaikan Allah dalam Al-Quran. Kisah tentang Yajuj dan Majuj adalah fenomena peristiwa yang juga bagian dari nubuwwah (ramalan) Rasulullah saw, yang akan muncul di akhir zaman, kita meyakini bahwa kebangkitan Islam akan terjadi bersamaan dengan munculnya tanda-tanda kiamat, adanya imam mahdi dan Nabi Isa, termasuk datangnya Dajal serta Yajuj dan Majuj. Fenomena khobar ini mengingatkan kita untuk terus memperkuat iman dan mempersiapkan diri menghadapi fenomena akhir zaman.

 

 

Rabu, 11 Desember 2024

Agama dan ilmu pengetahuan

Agama dan Ilmu Pengetahuan

Pengantar

Dalam Islam, aqidah adalah keimanan yang menjadi landasan utama bagi umat Islam. Sementara itu, filsafat berusaha memahami dan menjelaskan fenomena kehidupan melalui pendekatan rasional, yang pada akhirnya melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Hubungan antara aqidah dan filsafat sering menjadi perdebatan, terutama ketika filsafat dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah.

Salah satu pernyataan menarik dalam diskursus filsafat modern datang dari Karlina Supeli, seorang filsuf dan astronom asal Indonesia. Dalam sebuah ceramahnya di kanal YouTube Salihara Arts Center berjudul Kosmos dan Masalah Kebebasan Tuhan, ia pernah mengatakan, "Tuhan dipinggirkan saja, taruh di pojok." Pernyataan ini mengacu pada upaya menjaga objektivitas ilmu pengetahuan dengan menempatkan Tuhan di luar ranah pembahasan sains.

Aqidah Islamiyah berlandaskan wahyu dan keimanan kepada Allah, sedangkan filsafat mengandalkan akal untuk memahami kehidupan. Perbedaan ini kadang menimbulkan konflik, terutama dengan berkembangnya sekularisme di Barat. Namun, tradisi Islam menunjukkan bahwa Agama dan Ilmu Pengetahuan dapat saling mendukung untuk memberikan pemahaman yang lebih holistik.

Dalam pandangan sekularisme, agama dianggap sebagai ranah pribadi yang terpisah dari kehidupan publik. Akibatnya, ilmu pengetahuan berkembang tanpa pengaruh langsung dari nilai-nilai agama.

 

Agama dan ilmu pengetahuan

Agama dalam makna Ad-Din adalah aturan atau peraturan yang diwahyukan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk membawa keselamatan dan kebahagiaan manusia di setiap zaman.

Aturan ini mencakup tuntunan, petunjuk, pelajaran, pendidikan, ilmu, amal, contoh teladan, dan perumpamaan. Aturannya mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari hal kecil hingga besar, dari kebutuhan pribadi hingga kepentingan seluruh umat, serta mencakup dunia nyata (zahir) maupun dunia ghaib. Peraturan ini berlaku untuk kehidupan sementara di dunia fana hingga kehidupan kekal di akhirat, demi keselamatan dan kesejahteraan baik jagat kecil (mikrokosmos) maupun jagat besar (makrokosmos).

Din Islam adalah sistem yang mengatur kehidupan manusia. Ia diturunkan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hamba-Nya selama hidup di dunia. Allah menganugerahkan akal sebagai nurun filqolbi (cahaya dalam hati) untuk memahami ilmu dan pengetahuan. Anugerah ini menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, sebagaimana disebutkan dalam Qs. 2:31

Artinya : "Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengajarkan Nabi Adam, sebagai manusia pertama, pengetahuan tentang nama-nama benda dan makhluk di sekitarnya. Pengetahuan ini mencakup kemampuan memahami, mengenal, dan mengelola alam semesta, yang menjadi bekal penting bagi manusia dalam menjalankan peran sebagai khalifah di bumi. Allah memberikan kemampuan belajar dan memahami kepada manusia. Ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah karunia langsung dari Allah. Dengan akal, manusia dapat memahami ilmu yang diajarkan oleh Allah, mengembangkannya, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menggunakan ilmu dan akalnya dengan baik, sesuai dengan kehendak Allah, demi kemaslahatan dunia dan akhirat.

Dengan demikian, QS. 2:31 menjadi landasan bahwa Allah-lah sumber segala ilmu, dan Dia mengajarkan manusia agar mampu menjalankan tugasnya di dunia dengan akal dan ilmu pengetahuan.

Dengan akal dan ilmu pengetahuan, manusia terus berkembang dari masa ke masa. Sejak Nabi Adam hingga saat ini, kemajuan manusia semakin terlihat. Kecerdasan manusia masa kini mampu mengumpulkan berbagai pengalaman dan hasil penelitian, yang melahirkan ilmu pengetahuan baru. Berkat ilmu inilah, manusia mencapai kemajuan yang luar biasa, termasuk kemampuan menciptakan kecerdasan buatan (AI) di era modern.

Ilmu pengetahuan telah mencapai puncak kemajuannya, membuat manusia mampu menguasai daratan, lautan, dan udara. Namun, keberhasilan ini justru membuat ilmu pengetahuan dipuja-puja seperti berhala buatan sendiri. Manusia seolah menghambakan diri kepada ilmu pengetahuan, menjadikannya tandingan (andad) Allah sebagai Sang Pencipta.

Bagi kaum materialis, ilmu pengetahuan sering kali melupakan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Mereka lupa bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka banggakan sesungguhnya adalah anugerah dari Allah, yang mengatur seluruh alam semesta, termasuk manusia dan ilmunya.

Apa yang manusia hasilkan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi sebenarnya bukanlah penciptaan, melainkan sekadar merangkai apa yang sudah Allah ciptakan. Namun, banyak yang kemudian menjadikan ilmu pengetahuan sebagai "tuhan," sehingga melahirkan kesombongan dan keangkuhan. Mereka menolak dan membuang apa pun yang dianggap tidak masuk akal. Sikap seperti ini justru menjauhkan manusia dari Sang Khalik, yang adalah sumber dari segala ilmu dan penciptaan.

Manusia yang tidak mengenal Sang Khalik cenderung menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya untuk memenuhi hawa nafsunya. Dengan alasan modernisasi atau kemajuan ilmu, mereka mengabaikan tanggung jawab menjaga dan memelihara dunia. Sebaliknya, mereka berlomba-lomba menciptakan teknologi untuk menunjukkan kekuasaan, yang pada akhirnya berpotensi memicu konflik besar seperti perang dunia ke-3, yang dapat menghancurkan peradaban manusia.

 

Mereka tidak menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu yang dimiliki seharusnya digunakan untuk menyempurnakan kewajiban sesuai ajaran Islam, bukan sebagai alasan untuk kufur kepada Allah atau murtad dari agama-Nya.

 Allahu a'lam bishawab.
Abu Roja